SERAT KOLOTIDHO

January 25, 2006

Memaknai Serat Kolotidho

Amenangi jaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun.

Ndilalah kersaning Gusti,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling lan waspada
.
 
Syair tersebut di atas adalah petikan dari Serat Kolotidho yang bermakna sebagai berikut:
menyaksikan zaman penuh kegilaan,
sungguh serba susah dalam bertindak,
ikut gila sungguh tak tahan,
tapi kalau tak ikut (gila) takkan dapat bagian,
kelaparan pada akhirnya.

namun sudah menjadi kehendak Tuhan,
sebahagia-bahagianya orang yang lupa daratan,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

 

Makna yang tersirat dari syair tersebut adalah pada suatu saat akan datang zaman yang penuh dengan kekacauan. Kebenaran dan kejahatan sudah tidak jelas  bedanya. Tipis, tipis, tipis sekali batasnya. Pada zaman itu orang yang tidak ikut berbuat jahat tak akan kebagian rezeki, atau takkan bisa kaya raya. Sebaikbaiknya orang  yang berbuat jahat, masih lebih baik orang yang tetap menjalankan adat-istiadat dan selalu ingat terhadap aturan hukum.
Almarhum Raden Ngabehi Ronggo Warsito – sebut saja Ki Ronggo – menuliskan Serat Kolotidho dalam bentuk wejangan bermakna mendalam dan tetap layak jadi pegangan hidup di masa kini. Betapa dalam hidup ini kita musti memilih: menjadi orang jujur dan baik budi tapi tak berpunya, atau hidup bahagia dan kaya raya dengan tumpukan harta benda tetapi limpahan kekayaan itu ternyata dari  hasil memeras, menipu, manipulasi, konspirasi, merampok, korupsi, kolusi, dan tindakan jahat  lainnya. 
 

Pengalaman ICW dalam investigasi kasus korupsi

January 24, 2006

Pengalaman Investigasi ICW

UU No 20/2001 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

January 24, 2006

UU No 20/2001 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

DASAR PERUNDANGAN

January 24, 2006

PERAN SERTA MASYARAKAT PP NO 71/2000